Rabu, 07 Oktober 2015

Aktivitas Gunung Sinabung


Aktivitas Gunung Sinabung Masih Tinggi

MEDAN, KOMPAS — Aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, masih tinggi. Setelah kemarin tercatat 12 kali meluncurkan awan panas guguran, hari ini, Jumat (31/7) hingga pukul 12.00, telah terjadi enam kali awan panas guguran. Jarak luncuran mencapai 2.000 meter hingga 4.000 meter dengan ketinggian kolom abu antara 1.000 meter hingga 3.000 meter. Angin mengarah ke timur sehingga hujan abu tipis kembali mengguyur Kota Brastagi.




Warga merawat tanaman kol di Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dengan latar belakang Gunung Sinabung, Juli. Letusan dan erupsi Gunung Sinabung sejak tahun 2013 itu menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi.
Kompas/PriyombodoWarga merawat tanaman kol di Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dengan latar belakang Gunung Sinabung, Juli. Letusan dan erupsi Gunung Sinabung sejak tahun 2013 itu menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi.
Pengamat Gunung Api Sinabung di Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Widi Cahya, mengatakan, awan panas guguran terakhir terjadi pada pukul 10.15. "Aktivitasnya masih tinggi seperti kemarin," kata Widi.
Sebelumnya pada hari Kamis, Sinabung meluncurkan 14 kali awan panas dengan jarak luncur mencapai 4.500 meter mengarah ke timur-tenggara. Frekuensi itu merupakan luncuran terbanyak sepanjang Sinabung berstatus Awas sejak awal Juni lalu. Bahkan pada pukul 07.05 terjadi erupsi dengan ketinggian mencapai 700 meter.
Gunung mengembung sebesar 20 mikroradian dengan penumpukan kubah lava lebih dari 2 juta meter kubik. Kubah lava itulah yang berguguran sehingga menimbulkan awan panas guguran. Sistem aliran magmanya kini juga sudah terbuka (open system) sehingga aktivitas sedikit saja di dalam perut gunung akan mendesak ke atas dan keluar ke permukaan gunung.
Jumlah pengungsi tercatat masih 3.150 keluarga atau 11.110 jiwa yang tersebar di 10 posko. Kebanyakan para bapak hanya berada di pengungsian malam hari. Siang hari mereka bekerja di ladang dan kembali saat makan. "Kebutuhan makan memang dipenuhi oleh pemerintah. Namun, kebutuhan lain, seperti kebutuhan anak sekolah, warga harus bekerja juga menjadi buruh tani," kata Bakteria Sembiring, koordinator posko pengungsi Sempajaya di Brastagi.
Kebanyakan pengungsi yang adalah petani kini tidak bisa mengerjakan ladangnya dan menjadi buruh tani di tempat petani lain.
Sedangkan pengungsi yang sudah menerima uang sewa rumah, sewa lahan, dan menetap di hunian sementara mencapai 2.053 keluarga atau 6.179 jiwa. Mereka berasal dari Desa Bekerah, Simacem, Sukameriah, Kota Tonggal, Berastepu, Gurukinayan, dan Gamber.




Gunung Sinabung yang terus mengalami erupsi dari Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Juli. Letusan dan erupsi Gunung Sinabung sejak tahun 2013 itu menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi.
Kompas/PriyombodoGunung Sinabung yang terus mengalami erupsi dari Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Juli. Letusan dan erupsi Gunung Sinabung sejak tahun 2013 itu menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi.
Sejumlah pengungsi sudah dipindahkan ke kawasan relokasi warga di daerah Siosar, Kecamatan Merek, Karo. Sisanya masih menunggu pembangunan relokasi selesai.
Rumah relokasi yang sudah ditempati mencapai 103 unit dan merupakan bagian dari pembangunan tahap pertama yang mencapai 370 unit untuk warga Desa Bekerah, Simacem, dan Sukameriah. Sisa 267 unit sedang dibangun dan selesai tahun ini.

Total rumah relokasi yang akan dibangun mencapai 2.053 unit. Sisa 1.683 unit masuk dalam program pembangunan tahap kedua setelah penyelesaian pembangunan tahap pertama. Rumah tahap kedua itu untuk warga di lima desa, yaitu Sibitun, Berastepu, Gamber, Kota Tonggal, dan Gurukinayan (Kompas, 28/5). (WSI) 

sumber: kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar